Senin, 21 Oktober 2013

Lacan dan Baudrillard Bertabligh di Kebumen

By : Salman Rusydie Anwar

Catatan ini sebenarnya sudah lama mengendap dalam benak. Sekitar pertengahan September lalu, pasca bersuanya saya dengan satu fenomena sosial yang tak ayal membuat saya harus rela memikirkannya.

Waktu itu, saat menunggu istri belanja di pasar, saya istirah di depan sebuah salon. Di depannya, tiga sepeda motor terparkir. Tak ada yang menarik sebenarnya bagi saya. Sebab dimana-mana, yang namanya salon pasti tempatnya orang memanjakan penampilan. Bukan sedang tahlilan seperti yang dibid'ahkan oleh makhluk bercingkrang.

"Entar aku beli yang itu ya, Mbak. Berapa harganya? Dua ratus lima puluh? Ya, nunggu transferan dulu, hehe. Cerah nggak buat wajah?"

Ini hanya secuil obrolan mereka yang saya tangkap. Entah siapa. Tapi yang jelas perempuan muda. Saya baru yakin saat perempuan itu keluar dari dalam salon. Masih usia SMA rupanya. Berdua dengan temannya yang juga perempuan. Saat mereka berdua berlalu dengan motor Suzuki Satria FU-nya, seperti ada yang mereka tinggalkan di benak saya. Wabilkhusus tentang bagaimana seseorang begitu antusiasnya mengurus penampilan.

Tak ada yang salah memang. Setiap orang mesti harus memperhatikan dirinya sendiri. Tentang penampilannya, kesehatannya. Semuanya. Penampilan menjadi bagian inhern yang harus diperhatikan, terutama saat seseorang memiliki jadwal interaksi sedemikian padat dengan banyak kalangan. Maka tidak heran, bagi mereka yang berada di dalam lingkaran kehidupan jetset, para sosialita, artis, harus ada budget khusus untuk mengurus soal yang satu ini. Tak tanggung-tanggung, semuanya bisa mencapai angka jutaan.

Tetapi, apakah gadis muda barusan termasuk person yang sedang mendiami lingkaran kehidupan semacam itu? Entahlah. Pastinya mereka adalah satu dari sekian orang yang terobsesi untuk mengurus penampilannya sedemikian rupa. Dan itu tidak salah atau wajar bagi sebagian lainnya.

Zaman terus bergulir. Ya, dan semakin akan terus bergulir. Dalam tiap gulirannya ia selalu datang membawa gempita produk dengan prosesi penawaran yang membuat banyak orang seakan perlu mengikutinya, wajib mentaatinya, harus memilikinya. Termasuk produk untuk mengurus soal penampilan tadi.

Ada dua kekuatan -menurut saya- mengapa banyak orang harus bersikap demikian. Imaji dan janji. Produk kecantikan sedemikian piawainya menanam imaji yang dengan kekuatan kapitalnya mereka mampu menghadirkan sosok/figur (idola) publik untuk membantu meyakinkan sebanyak mungkin audiens bahwa mereka bisa digugah imajinya.

Imaji yang sudah berhasil digugah merupakan kesempatan potensial untuk dijadikan sebagai lahan menebar janji (spread promise). Tidak usah jauh-jauh. Lihat saja iklan sabun mandi. Lifeboy menjanjikan efek kesehatan bagi pemakainya sementara Lux menjanjikan efek kecantikan bagi pembelinya. Jika ingin mendapatkan dua manfaat itu; apakah berarti kita harus menggunakan dua sabun berbeda untuk setiap kali mandi? Terserah.

Ini baru sabun. Belum ke kosmetik wajah. Ada kosmetik yang menjanjikan efek cerah, menghilangkan noda, mengubur flek, menyumbat minyak, menggusur komedo dan sekian janji lainnya. Janji itu sedemikian meyakinkan karena pada saat yang bersamaan kita dihadapkan pada hadirnya sosok-sosok jernih-kinclong yang tak dapat tidak telah sempurna menggugah imaji kita. "Aku ingin seperti dia," inilah etape pertama yang muncul diam-diam dalam benak. Selanjutnya, "Ya, nunggu transferan dulu." Sebuah ungkapan yang menyiratkan adanya keinginan untuk tetap memiliki sesuatu yang kita imajikan. Walaupun itu berat.

Maka sampai disini saya dapat memahami apa kata Jacques Lacan saat dia berkultum tentang dua hasrat tubuh. Pertama, tentang hasrat menjadi. Dari hasrat inilah seseorang terobsesi untuk menjadi objek; objek kekaguman, objek pemujaan yang karenanya seseorang dapat dengan rela melakukan sesuatu sebagaimana yang mereka inginkan. Lebih tepatnya mereka imajikan.

Kedua, tentang hasrat memiliki sesuatu seperti yang dimiliki oleh orang lain. Berimaji ingin cantik seperti Dian Sastrowardoyo yang menjadi objek kekaguman banyak orang, maka kita akan pakai itu sabun Lux. Menanam keinginan untuk tampil cantik cerah seperti Inneke Koesherawati, tentu kita akan ikut pakai kosmetik Wardah. Begitulah seterusnya sampai kita melupakan sebuah kata. Lelah.

Apakah gadis muda yang keluar dari salon tadi sedang memerankan apa kata Lacan? Wallahu A'lam.

Tapi lamat-lamat terdengar juga tabligh Jean Baudrillard dari corong sebelah yang ngupas soal keutuhan diri. Katanya, "Saat kosmetik melapisi wajahmu, maka pada saat yang bersamaan wajahmu jadi terhapuskan. Wajahmu tak ada, hanya kosmetik yang tersisa. Bibirmu hilang, hanya lipstick.yang nampang. Kalau kau bertingkah seperti mereka yang kau idolakan, maka engkaupun lenyap bersama citra idolamu. Dan saat itulah dirimu dikuasai oleh sesuatu yang ada di luar dirimu dan engkaupun menjadi seseorang selain dirimu.".

Kedua gadis yang baru keluar dari salon itu pun lenyap dari pandangan. Sementara pada saat yang bersamaan istriku datang. Keringat membasahi wajahnya. Begitu kusam dan tak enak dipandang. Ada kontroversi dalam diri saya yang tiba-tiba berkecamuk. Haruskah saya katakan tentang kultum Lacan dan tabligh Jean tadi? Padahal melihat wajah kusamnya yang berlepotan keringat seperti itu, sungguh-sungguh saya kehilangan gairah. Adaowww...!!

Book Review Semangat Tanpa Batas


Judul Buku      : Semangat Tanpa Batas
Penulis             : Imam Robandi
Penerbit           : Tangan Emas, Kebumen
Cetakan           : Pertama, Juli 2013
Tebal               : iii-241

Hal yang tak terbatas dalam diri setiap manusia adalah keinginan. Jika seseorang sudah berhasil mencapai sesuatu, maka pasti ada hal lain yang ingin mereka capai kembali. Sejauh usaha dalam mencapai keinginan demi keinginan itu dilakukan dengan benar, maka tidak ada yang perlu dipersoalkan.
Namun yang menjadi problem adalah, tidak terbatasnya keinginan itu seringkali tidak diimbangi dengan sebuah strategi dan motivasi yang harusnya juga tidak terbatas. Bagaimana mungkin dapat mencapai keinginan yang tiada terbatas itu jika motivasi dan semangat kita justru kita batasi sendiri. 
Islam yang kita anut adalah agama yang sangat sarat dengan nilai-nilai motivasi tanpa batas. Di dalam Al-Qur’an sendiri, banyak sekali ditemukan ayat-ayat yang berisi dorongan (motivasi) kepada manusia untuk senantiasa bergerak, melakukan usaha-usaha yang bermanfaat dan bernilai kebaikan.
Dengan demikian, maka substansi dari kebermaknaan hidup ini tiada lain apabila kita mau berbuat sesuatu, tidak pasif, melainkan aktif. Peradaban demi peradaban yang telah berhasil diraih oleh umat manusia selama ini, disebabkan karena adanya keinginan dari mereka untuk berbuat, melakukan perubahan demi sebuah kemajuan.   
Mustahil sebuah perubahan dapat terjadi apabila tidak ada kemauan untuk bertindak. Namun sebuah tindakan juga tidak akan menjamin lahirnya perubahan apa-apa apabila tidak didasari oleh etos, motivasi dan semangat yang tinggi di dalamnya. Karena itu, etos atau semangat yang tinggi (himmatan ‘aaliyatan) ini merupakan landasan utama yang akan menentukan berhasil-tidaknya suatu perbuatan itu sendiri.
Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Profesor Waka Ryoji, “Jika kamu kekurangan uang, itu sedikit problem. Kalau tidak mempunyai uang, masih ada bank, tetapi kalau tidak mempunyai semangat maka tidak ada bank atau departemen store yang dapat menimbun semangat. Semangat hanya ada dalam dirimu. Kamu sendiri yang harus memelihara.”
Dalam terminologi agama, semangat sangatlah erat berkaitan dengan ketaqwaan. Sementara ketaqwaan itu sendiri adalah unlimited sifatnya. Ketaqwaan menjadikan orang-orang yang beriman dapat berikhtiar semaksimal mungkin untuk menggapai nilai tertinggi dalam kehidupan mereka (hlm.207).  
Perbuatan yang dilakukan tanpa didasari semangat yang tinggi hanya akan mengundang resiko berupa kegagalan yang sangat menyakitkan. Sebaliknya, kegagalan yang terjadi setelah kita berusaha keras masih bisa memberikan nilai lebih berupa pengalaman yang tak terbatas, dimana dengan pengalaman inilah kita masih bisa kembali memulai langkah.
Mungkin ada benarnya menjadi “Kijang yang Harus Terus Berlari” pada saat harimau masih sedang tertidur (115). Artinya, kita tidak perlu menunggu waktu yang tepat untuk memulai semangat baru dalam berjuang dan berusaha menggapai sukses. Sebab pada dasarnya semua waktu menyimpan peluang kesuksesan sejauh kita mau berusaha dengan penuh semangat dan kesungguhan (129).
Buku berjudul Semangat Tanpa Batas yang ditulis oleh Imam Robandi ini berisi ulasan menarik tentang pentingnya setiap orang memiliki semangat tanpa batas dalam berusaha dan memperjuangkan sesuatu. Sebagai Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Imam Robandi banyak merekam peristiwa keberhasilan yang telah dicapai oleh kader-kader Muhammadiyah di seluruh penjuru tanah air.


Book Review Menejemen Madrasah


Judul Buku                  : Menejemen Marketing Pendidikan Madrasah
Penulis                         : Muhammad Rais, M.Pd.I
Penerbit                       : CV. Pustaka Ilmu
Cetakan                       : April 2013
Tebal Halaman            : v-174
ISBN                           : 978-602-78531-5-7

            Seringkali, masyarakat beranggapan bahwa Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang kurang memiliki daya saing dibanding dengan lembaga pendidikan sederajat lainnya. Ada beberapa alasan yang menjadikan munculnya asumsi semacam itu, antara lain adalah keberadaan Madrasah dipandang sebagai lembaga pendidikan yang lebih banyak menfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama.
            Menguatanya asumsi seperti di atas ini menjadikan beberapa kalangan masyarakat menilai, bahwa Madrasah kurang memberikan perhatian yang lebih terhadap potensi akademik anak tapi sebaliknya lebih mengedepankan pembinaan moral dan agama (hlm.8). Tentu, asumsi mereka tidak sepenuhnya bisa dipersalahkan, mengingat Madrasah memang sangat identik dengan sekolah ke-Islam-an yang tidak boleh tidak harus mengedepankan materi yang menyangkut masalah Islam itu sendiri.
            Namun, kalangan masyarakat lainnya menilai, bahwa Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang tepat untuk membina anak didik dengan ilmu agama, moral dan etika. Asumsi ini tentu saja juga didasarkan pada realitas remaja masa kini dimana kehidupan mereka –menurut sebagian penilaian- sudah sangat jauh menyimpang dari rambu-rambu agama dan etika.
            Dualisme sudut pandang masyarakat mengenai Madrasah ini secara tidak langsung menjadikan Madrasah seakan berada pada posisi tawar yang gamang. Satu sisi, Madrasah yang ada saat ini sudah jauh melampaui stereotip pandangan masyarakat sebelumnya, yang menganggap Madrasah hanya mengajarkan agama dan moral namun kurang memperhatikan potensi akademik anak. Namun disisi yang lain, tidak mudah juga untuk mengubah asumsi yang sudah kadung tercipta sekain lama itu.
            Reformasi kebijakan pendidikan yang salah satunya melahirkan UU No 20 Tahun 2003, bahwa “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa,” tidak serta merta berhasil menghapus pandangan sebagian masyarakat bahwa ada dikotomi lembaga sekolah, yakni sekolah negeri (SD, SMP, SMA, SMU) dan sekolah swasta (MI, MTs dan MA).
            Oleh sebab itu, fenomena ini seharusnya mampu ditangkap secara cerdas serta sekaligus mampu mengilhami para pengelola Madrasah untuk menciptakan strategi-strategi baru yang bisa mengangkat “daya jual” sekolah Madrasah dalam percaturan dunia pendidikan nasional.
            Philip Kotler dalam Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation, and Control (Englewood Cliffs:1998) mengatakan, bahwa di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, menejemen pemasaran merupakan hal yang diperhatikan dalam berbagai organisasi. Dalam sektor nirlaba Kotler menegaskan, universitas yang menghadapi menurunnya jumlah pendaftar serta meningkatnya biaya mereka menggunakan strategi pemasaran untuk mencari mahasiswa dan dana.
            Hal yang dilakukan oleh tiap-tiap universitas di dalam menjalankan proses pemasaran ini antara lain seperti menetapkan pasar sasaran mereka dengan jelas, memperbaiki komunikasi dan promosi serta menanggapi kebutuhan dan keinginan mahasiswa dengan baik.
            Dalam dunia pendidikan, pemasaran dapat diadopsi sebagai suatu proses kegiatan kependidikan yang perlu dilakukan untuk menempatkan lembaga pendidikan sebagai suatu komoditas yang menyediakan jasa pelayanan kepada masyarakat. Jika kita cermati pendapat Kotler di atas, maka sedikitnya ada dua elemen penting dalam upaya memasarkan lembaga pendidikan, yaitu baiknya kualitas komunikasi dan promosi sebuah lembaga pendidikan serta kemampuan untuk menanggapi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang hendak menuntut ilmu pada lembaga pendidikan yang dikelola (hlm 12).    
Di tengah kuatnya arus kompetisi antar lembaga pendidikan saat ini, maka strategi “pemasaran” Madrasah sebagai bagian dari sosialisasi pendidikan merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Hal ini bertujuan agar masyarakat memiliki cara pandang yang objektif mengenai Madrasah serta menyadarkan pengelola Madrasah untuk lebih kreatif menggagas program-program pendidikan yang mereka tawarkan.

Senin, 14 Oktober 2013

Sembelih Kambingmu

"Sekarang terangkan padaku tentang Idul Qurban," pinta guruku
Maka dengan kebanggaan berlipat, aku tak menampik

Idul Qurban, kataku, adalah peristiwa agung
Dimana kecintaan harus jungkal dihadapan ketaatan
Ibrahim, yang cintanya utuh pada Ismail
Mesti harus melakukan hal
Yang baginya amat musykil dan mustahil

"Bego'!" potong guruku
Sambil menjewer telinga kananku
"Ngaji lagi sana. Satu tahun"
Dan akupun tak punya pilihan
Setelah setahun
Aku kembali datang

Kataku, "Sekarang aku siap memberi penjelasan
Tentang apa yang setahun lalu guru tanyakan."

"Terangkanlah," jawab guruku

Idul Qurban
Adalah metode mendekati kesejatian
Dengan mengorbankan segala hiburan
Yang teramat kita sayang-sayang
Idul Qurban melatih kita jernih memandang
Tentang sisi kebinatangan seseorang
Yang bisa jadi lebih dominan
Dan karenanya harus dipangkas, dipotong dan dibuang
Idul Qurban adalah peristiwa penegasan
Tentang aspek kebinatangan manusia yang harus disucikan
Dengan jalan penyembelihan-pemangkasan
Idul Qurban menyiratkan satu pesan
Betapa Tuhan memang sangat cemburuan

Yang hatinya menyimpan cinta penuh
Terhadap selain diri-Nya,
Bersiaplah
Menanggung derita

Ibrahim yang cintanya tak perlu diragukan akan Ismail
Mesti harus bertaruh untuk memilih
Menomorsatukan Dia atau dia
Dan pilihan itu ditentukan oleh sanggup tidaknya Ibrahim
Melakukan perintah penyembelihan

Ya'qub yang rasa sayangnya buncah kepada Yusuf
Mesti harus menanggung buta
Atas dijauhkannya si buah hati tampan rupawan
Selama hampir sepuluh tahun

Muhammad yang hatinya mulai terpukau akan dua cucunya yang ia banggakan
Mesti harus mencipta jarak saat Jibril datang membawa pesan
Akan nasib tragis kedua anak itu dimasa depan

"Stop..stop," potong guruku lagi
Dengan bibir tersenyum ia mendekat dan menepuk-nepuk pundakku
"Bahasamu terlalu tinggi, Nak
Engkau, dengan bahasa begitu akan senantiasa kesepian
Ditengah hiruk-pikuknya orang-orang
Cukup sederhana sebenarnya yang aku inginkan
Dengan Idul Qurban
Kau punya dua pilihan

Yang harus kau ambil keduanya; apa yang bisa kau korbankan untuk mereka
Atau bersediakah engkau dikorbankan demi menanggung masalah-masalah mereka

Jika keduanya bisa engkau lakukan, maka engkau telah menyembelih dominasi
Keegoisanmu, keserakahanmu
Jika keduanya bisa engkau lakukan, engkau telah tanggalkan pakaian kebinatangan
Engkau telah sucikan cinta dan kemanusiaanmu yang sejatinya memang itu yang Tuhan inginkan
Agar antara dirimu dan Tuhanmu bisa saling berdekatan
Tanpa harus kau sembunyi-sembunyi dari riuh-rendahnya kenyataan."


Aku melongo dengan uraian guru
Sekarang aku paham, kataku kemudian


'Tidak!" tukas guruku
"Kembali lagi ke surau. Ngaji
Setahun lagi."



Kebumen, 15-10-13

Minggu, 22 September 2013

Yang Bertakbir Di Atas Ketakabburan


Allah SWT menyatakan diri-Nya sebagai Yang Maha Besar. Kebesaran-Nya tak dapat kita bandingkan dengan apapun di seluruh jagad raya ini. Bahkan sekadar kita berpikir untuk mencari bandingan antara kebesaran Allah dengan selain Dia, sungguh kita tidak akan pernah berhasil.
            Karena kebesaran Allah itu sama sekali tak tertandingi oleh apapun, maka kita menyebutnya dengan kalimat Allahu Akbar (Allah Maha Besar), dan itu kita sebut berkali-kali setiap hari dalam shalat kita, dzikir kita dan seterusnya.
            Pengakuan terhadap kebesaran Allah itu akan semakin terasa frekuensinya manakala kita telah usai menjalankan ibadah puasa dan kemudian kita masuki hari satu Syawal dimana kita diperintahkan untuk bertakbir sejak malam hingga pagi harinya.
            Coba kita renungkan, miliaran manusia di dunia pada malam dan hari yang sama di awal bulan syawal memekik-mekik kalimat Allahu Akbar..Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Seandainya kita diperkenankan oleh-Nya untuk bisa terbang dan mampu mendengarkan seluruh pekikan takbir itu, mungkin seluruh tubuh kita akan tenggelam dalam getaran-getaran maha dahsyat yang ditimbulkan oleh pekik takbir itu.
            Mengagungkan Allah lewat pernyataan kalimat Allahu Akbar, saya rasa merupakan sebentuk latihan agar kita belajar mengerdilkan diri di tengah-tengah kebiasaan membesar-besarkan, menghinakan diri diantara pusaran keinginan mengagungkan dan membangga-banggakan. Memang, manusia teramat besar keinginannya untuk dianggap “lebih” dari manusia lainnya. Lebih hebat, lebih mulia, lebih suci dan sekian embel-embel kelebihan lain yang semua itu seakan memaksa kita -tanpa kita sadari- untuk berlaku sombong dan angkuh.
            Keinginan untuk dianggap “lebih” inilah yang seharusnya dikikis dengan penghayatan mendalam saat kita mengucap Allahu Akbar. Kita bisa menjadi sombong, besar kepala, angkuh dan menganggap diri kita “lebih segalanya” dari orang lain, itu kemungkinan besar karena kita belum menemukan taste dari pekik Allahu Akbar yang sehari-hari kita ucapkan. Makanya kita sombong.
            Dan harap dicatat, bahwa kesombongan itu bukan hanya milik orang yang tidak shalat. Orang yang sehari-hari kita pandang rajin shalat sekalipun, juga bisa menjadi manusia-manusia sombong atau bahkan kesombongannya lebih hebat lagi dibanding mereka yang shalatnya lebih banyak absen-nya.
            Kalau kita camkan apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah Saw, betapa ngerinya hati kita memahami pengaruh-pengaruh kesombongan, ketakabburan. Betapa tidak, sebesar biji dzarrah saja kita pelihara kesombongan dalam hati, maka Allah sama sekali tak memperkenankan sorga-Nya untuk kita masuki.
            Tak akan masuk sorga, kata Rasulullah, orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong sebesar biji dzarrah. Andai sorga kita umpamakan sebagai sebuah rumah pesta, yang di dalamnya disediakan jamuan-jamuan paling lezat dari lezatnya jamuan yang pernah dicipta manusia, maka dengan kesombongan itu kita terusir dari sana.
            Kesombongan atau ketakabburan menjadikan nasib kita dihadapan Allah menjadi begitu fatal dan naifnya. Sebab dengan kesombongan itu kita seperti sedang mengkondisikan diri menjadi pihak-pihak yang terbuang dari kasih sayang-Nya, menjadi pihak yang tersingkir dari panggilan cinta-Nya, menjadi sosok-sosok yang dibiarkan berada dalam kebuntuan tak bertepi di saat orang lain justru telah sampai pada tujuan yang mereka idam-idamkan selama ini.
            Karena itu, saya membayangkan, ketika sedang mengucap Allahu Akbar, maka segala atribut-atribut yang selama ini memaksa saya sombong harus saya buang dan singkirkan jauh-jauh. Harusnya saya merasa kerdil di hadapan kebesaran-Nya, harusnya saya merasa ringkih di hadapan keperkasaan-Nya, harusnya saya merasa hilang arti di hadapan kekuasaan-Nya. Allahu Akbar...Allahu Akbar.
            Sayangnya, saya tak cukup cerdas untuk segera dapat mengetahui, bahwa ternyata segala ihwal yang mengantarkan saya kepada kesombongan itu bukan hanya harta, ilmu, paras, keluarga, pangkat dan status-status jabatan belaka. Tetapi ternyata, sekadar diri ini merasa “lebih takwa” dari orang lain pun sudah cukup menenggelamkan saya di dalam lumpur ketakabburan.
            Para Nabi dan Rasul, selalu saja berdoa yang menyiratkan betapa mereka senantiasa mengaku dzalim di hadapan Allah. Mereka tak pernah menabik dada dengan menyebut mereka lebih baik dan benar dari umatnya, lebih shalih dari orang lain, merasa lebih pantas masuk sorga daripada orang-orang di sekitarnya. Dan perasaan inilah yang kian membuat mereka tak pernah merasa cukup untuk mengucap Allahu Akbar, tak pernah merasa puas untuk tenggelam dalam lautan ibadah kepada Allah.
            Sungguh betapa canggih dan membahayakannya makhluk yang bernama “diri merasa lebih” ini. Sebab dari perasaan inilah seseorang bisa dengan mudah melakukan penistaan-penistaan yang membuat mereka justru terlihat bodoh dalam kepandaiannya , terlihat jahat ditengah ibadah yang dilakukannya.
            Karena saya merasa lebih takwa, maka saya hina siapa saja yang berbeda dengan saya. Karena saya merasa lebih suci, maka saya halalkan caci. Karena saya merasa lebih tahu tentang agama, maka saya remehkan para pendosa tanpa harus saya tahu alasannya kenapa mereka berbuat dosa. Hanya karena diri merasa lebih, saya akhirnya berbuat seperti yang saya inginkan. Bukan berdasarkan apa yang Allah perintahkan.
            Apa itu sombong, wahai Rasul? Sabda beliau itu kini lamat-lamat saja terdengar; ialah menolak kebenaran dan menghina (merendahkan, meremehkan) manusia. Maka akhirnya saya khawatir, jika setiap hari saya lantunkan kalimat Allahu Akbar, bukannya diri makin tunduk rendah penuh gemetar melainkan makin menjulang saja pohon yang bernama rasa takabbur.  


Kebumen, 31 Agustus 2013.